Senin, 27 November 2023

, ,

JIKA CINTA TIDAK PERNAH ADA | CHAPTER 1

 

JIKA CINTA TIDAK PERNAH ADA

            A novel by Erlita Scorpio
    

CHAPTER 1

* * *

"GO ROAR! GO ROAR! GO ROAR!"

"GAU HO HO! GAU HO HO!"

"ROAR! GAU! ROAR! GAU! WINNER!"

Suara-suara pendukung Roar memang terdengar dari setiap tribun hanya untuk menyemangati laki-laki yang sedang memantulkan bola dan membawanya ke keranjang lawan. Lemparannya yang tinggi berhasil membawa bola itu seakan terbang mengikuti perintah Roar hingga berhasil masuk dengan sempurna. Suara pendukungnya kembali terdengar riuh karena sang bintang basket Grand Athlete University angkatan ke-10 itu berhasil membawa kemenangan pada pertandingan kali ini.

Roar pun berlari mendekati teman-teman satu timnya yang sangat senang sudah membawa piala pada hari ini. Mereka saling berpelukan memberikan selamat satu sama lain atas kerja keras mereka. Tetapi Roar mendadak berhenti, perhatiannya tertuju kepada seorang cewek yang terlihat berdiri dan begitu kecil di antara banyaknya orang di tribun. Roar dapat melihat bagaimana cewek itu tersenyum sangat lebar kepadanya.

Cewek yang dengan bangga mengenakan kaus bertuliskan "Penggemar No.1 Roar" kini melompat-lompat untuk mencoba menarik perhatiannya. Sialnya, dia memang berhasil menarik perhatian Roar untuk melihat ke arah sana. Tetapi sebelum cewek itu merasa terlalu percaya diri ketika Roar melihatnya, Roar langsung saja mengalihkan pandangan dan memutuskan pergi dan tidak memedulikan keberadaan siapa pun.

Roar tidak perlu pendukung. Roar sama sekali tidak membutuhkan penggemar. Apalagi kalau penggemarnya adalah cewek itu. Lebih baik tidak usah.

Sementara cewek yang berdiri di tribun itu masih tersenyum lebar melihat kepergian Roar. Meskipun Roar tidak lagi melihat kepadanya. Tapi kesadaran bahwa Roar mengetahui dirinya ada di sana untuk mendukung laki-laki itu sudah lebih dari cukup.

Mengetahui bahwa Roar Laga Yngvar tahu keberadaannya di dunia sudah sangat cukup.

Cukup. Itu sudah lebih baik untuk saat ini.

* * *

Lova berkali-kali melirik ke arah ruang ganti para pemain basket GAU. Ia tidak bisa masuk ke dalam sana kalau tidak memiliki tujuan penting. Entah keperluannya nanti disebut penting atau tidak. Tapi yang jelas kalau ketahuan pasti ia akan dimarahi oleh pelatih basket GAU.

Kalau saja alasannya bisa diterima, Lova ingin mengatakan bahwa ia ingin memberikan hadiah kepada Roar. Lova ingin memberikan selamat atas kemenangan laki-laki itu. Tetapi Lova sepertinya harus menahan diri, ia mengeratkan jaketnya untuk menutupi kaos spesial yang ia buat khusus untuk Roar. Kaos yang menunjukkan bahwa ia adalah pendukung laki-laki itu. Hanya saja mungkin nanti ia baru bisa memberikan hadiah ini kepadanya.

Meskipun Lova menunjukkan begitu terang-terangan bahwa ia menyukai Roar. Tapi sebenarnya Lova tidak seberani itu untuk berbicara secara langsung ke Roar. Apalagi Roar sangat menutup diri. Di antara teman-temannya yang lain, hanya Roar yang tidak ingin bertemu penggemarnya yang sangat banyak itu. Dia seolah-olah tidak peduli dengan semua orang. Apalagi jika penggemarnya hanya cewek tidak menarik seperti Lova, mungkin ia sudah berada pada baris paling akhir jika ada antrean untuk bertemu Roar secara langsung.

Lova memutuskan untuk berbalik dan pergi dari depan pintu ruang ganti pemain basket GAU. Ia sangat sedih tidak bisa bertemu Roar hari ini.

“Katjia?”

Suara itu berhasil mengejutkan Lova dan membuat cewek itu mendongak. Ia menemukan Loki, teman satu tim Roar, yang baru saja menyapa dan mengetahui namanya. Bagaimana mungkin seorang pemain basket GAU bisa mengenalnya?

“Lo Katjia kan?” tanyanya lagi memastikan. “Ada apa seorang Katjia berdiri di depan pintu sekarang?”

“Kamu kenal aku?” Lova berbalik tanya.

Loki tersenyum geli. “Siapa yang gak tau lo sih? Kayaknya satu Indonesia tau siapa lo karena orang tua lo itu,” jawabnya membuat Lova langsung mengerti. “Jadi ada apa, Katjia?”

“Aku ….” Lova terdiam sejenak, berpikir apakah ia perlu memberi tahu bahwa ia ingin melihat Roar atau tidak. Apakah ia juga membutuhkan bantuan untuk memberikan hadiah ini kepada cowok itu atau tidak. “Aku ….”

“Mau ketemu Roar?”

Lova terkejut karena tebakan Loki sangat benar. Ia pun mengangguk gugup untuk menjawabnya.

“Terus kenapa masih di sini? Kenapa lo gak masuk ke dalam?” tanya Loki terlihat santai, seakan-akan bahwa Lova atau siapa pun boleh saja masuk ke dalam sana.

Lova menggeleng pelan. “Aku takut dimarahi. Apalagi aku bukan bagian dari tim basket GAU. Gimana bisa tiba-tiba orang asing masuk ke dalam ruangan itu? Privasi.”

Loki tertawa mendengarnya. Respons cowok itu berhasil membuat Lova kebingungan. “Sebenarnya boleh. Cuma karena fans fanatik Roar aja yang suka masuk tiba-tiba jadi pelatih larang yang gak berkepentingan masuk.”

“Apalagi itu,” balas Lova lagi. “Kalau pelatih tau aku juga fans Roar, udah pasti dia bakal marah-marah dan usir aku kayak yang lain.”

“Lo mau kasih sesuatu sama dia?” tanya Loki lalu perhatiannya tertuju pada kotak yang ada di tangan Lova. Pertanyaan itu membuat Lova mengangguk cepat. “Gue bisa bantu kasih hadiahnya ke Roar. Tapi jelas gak gratis.”

“Gak gratis?” Lova berbalik tanya bingung. “Aku harus bayar berapa?”

“Bukan pakai uang.” Loki tiba-tiba saja mengeluarkan ponselnya dan membuka fitur kamera. Ia mengarahkan kameranya pada wajah Lova. Loki sudah memotret wajah Lova tanpa aba-aba. Tanpa memberi tahu apa Lova menyetujuinya atau tidak. “Cukup pakai foto lo aja.”

Lova terkejut bukan main. “Fotoku? Buat apa?”

“Biar kasih bukti ke Roar kalau lo yang kasih hadiah ke dia.” Loki menjawab dengan senyuman.

“Oh,” balas Lova baru paham. “Itu gratis dong namanya. Tapi apa gak repotin kalau kamu yang kasih?”

“Repot?” tawa Loki kembali terdengar. “Nggak sama sekali.” Ia langsung mengambil kotak itu dari tangan Lova. “Udah sini gue mau masuk. Lo balik aja ke kelas. Pasti ada kelas kan? Sana-sana! Hadiah lo aman sama gue!”

Lova yang memang memiliki kelas langsung mengangguk. Ia pun tersenyum dengan semangat ke arah Loki. “Terima kasih udah bantu aku.” Setelah itu Lova pergi dan Loki hanya tersenyum lalu masuk ke dalam ruang ganti pemain basket GAU.

* * *

“Hadiah dari fans lo!”

Roar tidak siap ketika menerima sebuah kotak yang tiba-tiba saja dilempar oleh Loki dari arah pintu. Ia kebingungan karena temannya itu dengan seenaknya menerima hadiah dari penggemarnya dan memberikan kotak ini kepadanya.

“Siapa?” tanya Roar cepat. Entah kenapa ia penasaran dengan seseorang yang memberikan hadiah ini. Apalagi melihat Loki tersenyum sangat bangga ketika masuk ke dalam ruangan ini. Dan juga Loki mengabaikan tatapan bertanya dari teman satu timnya yang lain.

“Fans lo.” Ulang Loki seakan tidak peduli.

Roar kembali bertanya, “Lo kenal?”

“Kenal, tapi kayaknya lo gak bakal ingat satu per satu nama fans lo kan?” Loki masih tidak bisa menyembunyikan senyum. Matanya kembali melirik ke layar ponselnya dan seperti memperhatikan hal yang begitu menarik di dalam sana.

“Gue tanya siapa namanya?!” Roar sangat marah sekarang. Loki sudah sangat membuatnya marah. Ia tidak senang kalau ada penggemar yang memberikan hadiah seperti ini dan di antara penggemarnya, sebenarnya masih ada satu yang paling nekat, jika Roar menebaknya dengan benar pasti cewek itu—cewek yang memakai kaus bertuliskan namanya itu.

“Kalau lo gak suka hadiah dari dia ya tinggal buang aja,” balas Loki lagi. “Udah jangan ganggu! Gue mau ke toilet!”

Perasaan Roar tidak yakin. Ia juga tidak peduli apa yang ada di kotak ini. Yang ia pedulikan adalah apa yang ada di dalam ponsel Loki sampai berhasil membuat laki-laki itu tidak bisa mengalihkan pandangan dan terus tersenyum.

Loki berjalan ke arah toilet dan mengasingkan diri dari banyak orang. Ia mengunci pintu lalu menyalakan ponselnya lagi, layarnya masih menunjukkan foto Lova dengan wajah cantik polosnya. Perlahan laki-laki itu menurunkan celananya lalu celana dalamnya. Tangannya meraba dengan perlahan kemaluannya dan matanya tidak lepas dari memandangi wajah cantik Lova. Gerakan tangannya itu semakin cepat dan berhasil membuat nafsunya makin meninggi.

Namun kesenangan Loki terhenti ketika pintu toilet didobrak dengan sangat kuat dan memunculkan Roar dengan wajah begitu marah di sana. Loki terkejut dan menarik celananya dengan cepat, tapi sebelum usahanya berhasil, wajahnya sudah ditonjok dengan sangat kuat oleh Roar.

Keributan itu terdengar dan tercipta begitu saja. Loki yang terkapar di lantai toilet masih sulit mengendalikan diri. Dan Roar, jelas saja tangannya masih mengepal dengan kuat, urat-uratnya terbentuk karena menahan emosi, tapi kelakuan bejat Loki sudah sangat keterlaluan dan membuat Roar memukul lagi teman satu timnya itu tanpa ampun.

“BANGSAT!”

Pukulan demi pukulan Roar layangkan ke wajah dan tubuh Loki. Ia tidak peduli bagaimana keadaan laki-laki itu. Ia tidak peduli konsekuensi apa yang akan ia terima ketika melakukan ini. Tetapi satu hal yang pasti, Roar tidak menyesal telah melakukannya.

“SIALAN LO!”

Suara pukulan dan amarah Roar berhasil membuat semua orang mendatangi toilet. Mereka terkejut menemukan Roar masih memukuli Loki yang hampir tidak sadarkan diri. Wajahnya sudah sangat babak belur. Dia bahkan tidak siap untuk membalas pukulan dari Roar. Setelah memastikan Loki tidak bisa lagi bergerak, Roar langsung merampas ponsel Loki dari tangan laki-laki itu, dan benar saja—tepat saat itu Roar melihat beberapa foto Lova yang dipotret oleh Loki.

Roar menghapus dengan cepat foto-foto Lova. Setelah itu ia membanting dengan kuat ponsel Loki sampai menjadi serpihan yang sulit untuk diperbaiki lagi.

“Ada apa ini?” Suara Mr. Garen, pelatih basket GAU, menghampiri dan terkejut melihat keributan yang dibuat oleh dua mahasiswanya. “Kenapa ada keributan dan kekerasan di dalam ruangan ini?!”

Roar menoleh dan menangkap tatapan tidak percaya dari Mr. Garen. “Kamu yang lakukan semua ini, Roar?” tanyanya tak menyangka. Ia mengabaikan Roar sejenak. “Cepat semua bantu Loki dan bawa dia ke rumah sakit!”

Semua pemain basket GAU lain menurut dan membantu Loki yang sudah tidak sadarkan diri. Sementara Mr. Garen mendekat ke arah Roar dan tidak lagi bisa menerima bahwa pemain basket terbaik di GAU sudah membuat masalah yang kelewatan.

“Kalau kamu memang memiliki masalah dengan Loki, jangan sampai kamu gunakan kekerasan lagi untuk menyelesaikannya!” ucap Mr. Garen. “Saya kecewa kamu melakukan ini, Roar. Saya harus tegas sekarang karena kamu gunakan kekerasan kepada teman satu tim kamu sendiri. Saya tidak ingin melihatmu bermain di pertandingan nanti. Supaya kamu tau tindakanmu saat ini adalah salah dan baru saya izinkan untuk kamu main di pertandingan berikutnya.”

Roar tidak menjawab. Membiarkan semua orang meninggalkannya seorang diri di dalam sana. Pandangan Roar terpaku ke arah lantai yang sudah ada darah Loki dan ponsel laki-laki itu yang hancur. Tetapi perasaannya masih gelisah. Ia tidak peduli tidak boleh mengikuti pertandingan berikutnya. Sebab yang ia pikirkan sekarang adalah perasaannya sendiri.

Katjia Leonna Doo Louva. Penggemar nomor satunya itu. Sudah sangat berhasil membuat amarah Roar melambung tinggi.

* * *

0 Comments:

Posting Komentar